Siapa yang tidak terpesona dengan keindahan pantai di bawah bukit bebatuan yang akrab disapa Pantai Ujung negoro. Ya, pantai yang berada di ujung timur kecamatan Kandeman Kabupaten Batang ini memiliki daya tarik tersendiri yang bisa menyihir wisatawan dengan keindahan nya. Letaknya yang sangat unik, yaitu berada di bawah Bukit bebatuan makam petilasan Syeh Maulana Maghribi ini selalu menyisakan kerinduan yang mendalam. Selain wisata alam, di tempat ini wisatawan juga bisa berwisata Religi dengan berziarah ke makam leluhur yang banyak menyisakan sejarah untuk Kabupaten Batang. Dan ada juga wisata Budaya dengan Mitos Gua Aswatama Nya.

Dengan Tiket masuk yang sangat murah, anda bisa mengajak kekasih, sababat, kerabat, atau keluarga untuk menikmati pesonanya. Tidak hanya itu, pemandangan yang luas juga bisa anda dapatkan disini. Anda bisa melihat aktivitas kapal yang keluar-masuk ke area PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang ada di ujung garis pantai, anda juga bisa ber swafoto, melihat aktivitas nelayan, memancing, menjaring ikan, berlarian kecil menyusuri pinggiran imbak, atau hanya sekedar bermain air di bibir pantai. Jika anda semakin penasaran,Yuk kita simak ulasan di bawah ini.

Sejarah

Di Pantai Ujung Negoro ini, dahulu kira kira di abad 17 yaitu masa awal berdirinya Kabupaten Batang, menjadi tempat berlabuhnya jung-jung atau perahu-perahu dari negeri Cina. Dan bermula bermangkalnya “Jung-jung saka Cina” dalam bahasa daerah yang berasal dari Negeri Cina. Akhirnya tempat tersebut disebut Ujung Negoro. Bermangkalnya perahu-perahu besar dari Cina itu menurut sumber yang sama, tidak lain milik para perampok pimpinan Baurekso. Yang mengaku berkuasa di seputar kali “Lojahan” (Sambong – Kramat ) penguasa lokal tidak mau mengakui yang dipertuan Mataram Islam itu.

Menurut Bapak R. Soedibjo Giri Soerjaham Logo, dalam majalah “Gema Pembangunan” Edisi khusus babad Pekalongan, terbitan Pemda Pekalongan, Nomor 27 Pekalongan 10 Juli 1975, disebut “Sang Tunjang Mlaya” (Teratai putih yang melayang-layang) atau “sang Raja Uling kanting”. Sedangkan menurut penuturan sementara penduduk, Drubekso yang mengakui “Penguasa” itu, disebut Uling, sebab ia dan kawan-kawannya ternyata tangguh dan ulet dalam upaya mempertahankan kawasan yang tidak sah itu. Sementara pendapat yang lain “Uling” tidak lain berasal dari bahasa Cina yaitu “Heling”.

Menurut keluarga R. Soenarjo, lebih lanjut menuturkan bahwa daerah kekuasaan “Heling” (Uling) atau Drubikso memanjang pantai Jawa, dan kawasan Gambiran (Pekalongan) sampai Alas Roban (Timur Batang), dari hilir sungai “Lojahan” dengan benteng rahasianya (Sademan dan secara sembunyi-sembunyi, sekarang menjadi nama kampung “Sademan” desa Klidang Lor. Terus meliputi daerah-daerah sekitar : Sambong, Kedung Cina, Kedung Ringin (di Kecamatan Batang) Jung Biru dan seputar wilayah gunung Tugel (Kecamatan Wonotunggal) kekuasaan Drubikso. 

Kekuasaan Drubikso beakhir, akhirnya Drubikso bisa dikalahkan oleh jaka Bau (Bhaurekso) dengan dibantu oleh pasukan Mataram, Subah, Gringsing dan kawan-kawan seperjuangan yang lain. Sehingga akhirnya perahu-perahu dari daratan Cina tersebut.

Mitos

Pantai Ujung Negoro ini memiliki kharisma ganda, selain menawarkan wisata alam, disini juga menyajikan wisata budaya,dan wisata religi. Di bagian lain pantai ini menyimpan peninggalan sejarah, yaitu pemakaman Syeh Maulana Maghribi dan Gua Aswatama. Makan Syeh yang diyakini sebagai penyebar Islam di daerah ini. Makam ini selalu ramai dikunjungi peziarah, terutama pada tanggal 15 Sapar (penanggalan Jawa) dimana digelar selamatan untuk Syeh Maulana.

Sedangkan Gua Aswatama sendiri memiliki legenda yang melekat di masyarakat. Alkisah pada perang Bharatayuda, seorang Pendeta Durna kalah melawan Pandawa. Sebagai upaya balas dendam, anak pendeta tersebut yang bernama Aswatama mengejar Pandawa hingga pantai Ujung Negoro.

Tanpa hasil, Aswatama bersemedi di salah satu gua dengan berdoa pada sang Ibu di kayangan, yaitu Dewi Wilutama. Sang Dewi pun turun dan memberi kekuatan pada anaknya agar bisa menyusul Pandawa di Jonggring Saloka (Dieng). Dewi Wilutama menyusuh Aswatama menggali tanah agar menembus ke tempat Pandawa berada dengan syarat tidak boleh menengok ke belakang selama proses penggalian. Singkat cerita, Aswatama pun menggali sejauh yang dia mampu.

Namun, dia tergoda untuk mengingkari janjinya untuk tidak menengok ke belakang. Lalu pada saat itu juga hasil galiannya kembali seperti semula. Dengan kesal, Aswatama membelokkan galiannya ke daerah Batur. Dan gua Aswatama itulah yang menjadi titik pertama penggalian. Hingga kini, legenda gua tersebut masih diyakini namun tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Selama ini memang masih terjadi kontroversi siapa yang dimakamkan di Ujungnegoro tersebut. Sebagian kalangan menyebut makam tersebut hanyalah sebuah petilasan karena di daerah Batang sendiri ada dua tempat yang dianggap masyarakat sebagai makam Syekh Maulana Maghribi. 

Pertama di Ujungnegoro, dan kedua di Wonobodro, Kecamatan Blado, Batang. Sebagian kalangan lain menyebut, tempat tersebut hanya merupakan tempat petilasan semata. Tempat makam tersebut dibagi dua, dipisahkan oleh pintu yang dibiarkan terbuka. Yang pertama adalah tempat yang lumayan luas untuk berdoa, dan yang kedua adalah tempat makam itu sendiri.

Tempat Ujungnegoro sendiri sebagai sebuah tempat ziarah sangatlah indah. Makam tersebut berada di sebuah bukit di Gua Aswatama, di bibir pantai Ujungnegoro. Anak tangga melingkari bukit tersebut hingga para peziarah setelah berdoa, bisa langsung ke bawah menikmati deburan ombak pantai. Dari pantai Ujungnegoro, bangunan Makam Syekh Maulana Maghribi terlihat dari bawah.

Pemandangan

Saat kita berkunjung ke pantai ujung negoro maka kita akan disuguhkan dengan pemandangan laut yang indah yang memanjakan mata. Hamparan pasir dan juga panorama alam sekitar yang mempesona menjadikan kita akan semakin betah dan berlama lama untuk berada di sana.

Selain itu di sana juga terdapat tebing tebing yang cukup tinggi yang dapat kita naiki untuk menikmati pemandangan laut dari atas tebing. Jika kita suka berfoto, maka anda tidak salah jika menjadikan pantai ujung negoro sebagai tempat tujuan anda untuk berwisata.

Sebetulnya sebelum dijadikan sebagai tempat wisata pantai ini dahulunya merupakan tempat wisata ziarah dimana di sana terdapat makam syeh Maulana Maghribi yang terdapat di sekitar gua Aswatama.Namun karena memiliki pemandangan pantai dan laut yang indah maka tempat wisata jadi berfungsi ganda sebagai tempat wisata pantai dan juga wisata ziarah.

Pengunjung pantai ini akan penuh pada saat hari libur Nasional dan juga hari raya idul fitri maupun idul adha. Jadi jika kita ingin menikmati keindahan pantai ini sebaiknya hindari datang saat hari libur agar kita bisa bersantai menikmati indahnya laut di sana.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk untuk berkunjung ke Pantai Ujung Negoro Batang sangat relatif terjangkau untuk masyarakat. Dengan membayar Rp5.000,00 per orang maka kita bisa masuk ke area wisata pantai. Jika kita ingin mencoba menaiki perahu untuk berkeliling di area pantai maka kita bisa menyewa perahu nelayan, biasanya perahu ini disewakan saat liburan saja.

Untuk yang suka berenang di pinggiran pantai sebaiknya jangan terlalu ke tengah karena di sana sudah ada jalur pembatas bahaya agar saat berenang tidak sampai jauh dari bibir pantai. Jadi usahakan taati peraturan berwisata dimanapun kita berkunjung.

Fasilitas

Pemandangan unik di Pantai Ujung Negoro, Kabupaten Batang. Selain laut lepas, pantai ini juga menyuguhkan pemandangan menawan dari bukit hijau yang berbatasan dengan pantai. "Kalau datang bulan Agustus atau September, air laut jernih dan ombak sedikit tenang. Kalau mau berjalan-jalan di bebatuan lebih nyaman," ungkap Kasumi (75), pedagang di pinggir Pantai Ujung Negoro.

Menurut Kasumi, bebatuan besar yang terserak di sisi kanan pantai sudah ada sejak pantai dibuka untuk umum. Di batu-batu itu pula, warga sering memancing ikan di laut. Sementara, pengunjung memanfaatkan sebagai spot berfoto. Tidak mudah mencapai pantai berbatu ini. Anda harus melewati jalan setapak yang dibuat di tebing bukit. Meski jalanan ini cukup lebar, Anda harus tetap hati-hati agar tidak terperosok. Biasanya, pengunjung memanfaatkan talud (lereng/tempat miring) yang juga menjadi jalan setapak itu untuk duduk-duduk sambil menikmati laut lepas. 

Sementara, di dekat pintu masuk terlihat hamparan pasir hitam yang cukup landai. Saat air laut surut, pengunjung bisa bermain air sepuasnya sambil mencari cangkang-cangkang kerang yang terbawa ombak.

Di musim-musim tertentu, pengelola memasang peringatan agar pengunjung tidak berenang di laut lantaran tinggi dan kuatnya ombak. Suasana di sekitar pantai ini terasa sejuk. Pepohonan besar dan rindang mengelilingi pinggir pantai mulai dari area parkir hingga dekat bibir pantai.

Di pinggiran pantai ini juga ada warung-warung yang menjual makanan dan minuman yang dapat memudahkan anda, selain itu beberapa lapak juga di gelar oleh warga segitar apabila anda ingin membawakan oleh-oleh ontuk keluarga seperti terasi, ikan asin, ikan kering, hasil laut khas Ujung Negoro, mainan kapal plastik, ronce-ronce dari kerang, dan masih banyak lagi tentunya dengan harga yang sangat murah.

Di area pantai tersebut juga terdapat tempat bermain anak-anak, gazebo untuk berteduh dan berkumpul, Toilet bersih, Mushola (sebagai tempat ibadah umat muslim), ayunan, perosotan, serta banyak fasilitas lainnya yang membuat pengunjung betah berlama-lama di pantai Ujung Negoro. (MC Batang Jateng/Chacha)